Materi Perkenalan Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH) kepada Calon Wisudawan dan Wisudawati Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan
Muhammad Rahmat, S.Pd.I., M.Si.
PW Ikatan Sarjana Al Washliyah Provinsi Sumatera Utara
Abstrak
Gelar sarjana menandai capaian penting dalam pendidikan, tetapi tidak otomatis menjamin kebahagiaan, pekerjaan yang sesuai, atau kehidupan yang mapan. Artikel kajian pustaka konseptual ini disiapkan sebagai materi refleksi sekaligus pengenalan Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH) kepada calon wisudawan dan wisudawati Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan. Pembahasan mengaitkan kebahagiaan dengan kesejahteraan psikologis, makna hidup, kesiapan karier, hubungan sosial, pekerjaan bermakna, dan pengabdian.
Kajian ini menggunakan kerangka kesejahteraan psikologis Ryff, teori determinasi diri Ryan dan Deci, serta penelitian tentang kelulusan dan transisi dari perguruan tinggi ke dunia kerja. Visi dan misi UNIVA Medan memberi arah bagi lulusan untuk mengembangkan kompetensi sekaligus karakter Kealwashliyahan. Sementara itu, ISARAH dapat menjadi ruang untuk merawat persaudaraan intelektual, jejaring profesi, pembelajaran sepanjang hayat, kolaborasi, dan pengabdian. Artikel ini menyimpulkan bahwa sarjana yang bahagia terus bertumbuh, menjaga integritas, membangun hubungan sehat, dan menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat kepada umat dan masyarakat.
Kata kunci: sarjana yang bahagia, ISARAH, Universitas Al Washliyah Medan, kesejahteraan psikologis, makna hidup, pengabdian
Pendahuluan
Calon wisudawan dan wisudawati, sebentar lagi Saudara akan mengenakan toga dan menerima pengakuan atas kerja keras selama menempuh pendidikan. Momen ini patut disyukuri. Di balik ijazah, ada proses belajar, dukungan keluarga, bimbingan dosen, doa, perjuangan, dan ketekunan.
Namun, wisuda bukan akhir perjalanan. Sebaliknya, kelulusan membuka tanggung jawab baru: menggunakan ilmu, menentukan arah hidup, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Setelah lulus, setiap orang menempuh jalan yang berbeda. Sebagian lulusan segera bekerja atau melanjutkan studi. Lulusan lain merintis usaha, membantu keluarga, mengabdi, atau mencari kesempatan yang sesuai. Karena itu, kita tidak dapat mengukur kebahagiaan dengan satu standar.
Gelar sarjana dapat membuka peluang, tetapi tidak menjamin semua rencana terlaksana seketika. Persaingan kerja, perubahan kebutuhan profesi, keadaan ekonomi, dan tanggung jawab keluarga dapat memengaruhi perjalanan lulusan. Meski demikian, tantangan tersebut tidak menghapus nilai pendidikan ataupun martabat seseorang.
Maka, setelah wisuda, kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih luas: ilmu apa yang akan terus dikembangkan, pribadi seperti apa yang ingin dibentuk, dan manfaat apa yang dapat diberikan? Pertanyaan tersebut menghubungkan keberhasilan akademik dengan tujuan hidup, akhlak, relasi sosial, profesi, organisasi, dan pengabdian.
Artikel ini memaknai kebahagiaan sarjana sebagai proses yang dimulai sejak masa kuliah dan berlanjut saat lulusan memasuki dunia kerja serta masyarakat. Dalam perjalanan itu, hubungan dengan keluarga, rekan sejawat, almamater, organisasi, dan komunitas dapat memberi dukungan. Karena itu, perkenalan dengan ISARAH menjadi kesempatan untuk tetap terhubung dengan keluarga besar sarjana Al Washliyah setelah wisuda.
Kebahagiaan sarjana tumbuh melalui proses
Sarjana yang bahagia tidak hanya memiliki pekerjaan bergengsi, penghasilan tinggi, atau jabatan tertentu. Ia berusaha menerima diri, mengembangkan kemampuan, membangun hubungan sehat, menetapkan tujuan, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Kebahagiaan juga tidak berarti seseorang selalu merasa gembira. Kegagalan, kecemasan, dan kekecewaan tetap dapat hadir. Namun, seseorang dapat belajar memahami keadaan, mencari dukungan, mengambil pelajaran, lalu melanjutkan langkahnya.
Ryff (1989) menjelaskan kesejahteraan psikologis melalui enam dimensi: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, kemampuan mengelola lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Kerangka ini mengajak lulusan menilai hidup secara lebih utuh. Artinya, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang telah dimiliki, tetapi juga tentang cara seseorang menjalani hidup, mengambil keputusan, menjaga hubungan, dan terus berkembang.
Untuk menerapkannya, sarjana dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah saya terus belajar? Apakah tujuan hidup saya memberi arah? Apakah saya mengambil keputusan secara bertanggung jawab? Apakah kehadiran saya membawa kebaikan bagi orang lain?
Visi UNIVA Medan dan amanah ilmu
Visi Universitas Al Washliyah Medan menekankan keunggulan (mumtaz) dalam menyediakan sumber daya manusia yang menguasai studi Islam, sains, teknologi, dan seni serta mampu bersaing secara global pada 2040. Visi tersebut menempatkan kompetensi akademik bersama nilai spiritualitas Islam. Dengan demikian, lulusan perlu mengembangkan keahlian sekaligus karakter. (Universitas Al Washliyah Medan, n.d.)
Misi UNIVA Medan mencakup pendidikan dan pengajaran bermutu yang berkarakter Kealwashliyahan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kerja sama, serta tata kelola kelembagaan yang baik. Karena itu, lulusan dapat meneruskan semangat almamater dengan memperbarui ilmu, menghasilkan gagasan yang menjawab persoalan, membangun kerja sama, dan menghadirkan manfaat melalui pengabdian.
Gelar sarjana, dengan demikian, menjadi bekal sekaligus amanah, bukan garis akhir pembelajaran. Nilai pendidikan tampak ketika lulusan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, memecahkan masalah, bekerja sama, dan mempertimbangkan dampak tindakannya. Karier juga tidak selalu berjalan lurus. Belajar keterampilan baru, mengubah arah, atau memulai dari kesempatan yang tersedia dapat menjadi bagian dari pertumbuhan.
Penelitian Akhir, Mesiono, dan Ritonga (2023) mengenai pengelolaan perguruan tinggi berbasis Kealwashliyahan di UNIVA Medan membahas integrasi nilai universal, nilai Islam, dan nilai Kealwashliyahan dalam pengelolaan lembaga. Kajian tersebut menunjukkan bahwa nilai dapat hadir dalam perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan. Bagi lulusan, nilai dan ilmu dapat saling menguatkan ketika mereka menjalankan profesi dengan etika, tanggung jawab, dan kepedulian.
Mengembangkan kompetensi dan menjaga hubungan
Ryan dan Deci (2000), melalui teori determinasi diri, menjelaskan tiga kebutuhan psikologis yang mendukung motivasi dan kesejahteraan: kompetensi, otonomi, dan keterhubungan. Kompetensi berkaitan dengan pengalaman mampu belajar dan menyelesaikan tugas. Otonomi berarti memiliki ruang untuk memilih serta bertindak secara bertanggung jawab. Adapun keterhubungan mencakup rasa diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari hubungan yang saling peduli.
Dalam kehidupan lulusan, seseorang dapat menjaga kompetensi melalui pekerjaan, pelatihan, penelitian, kegiatan profesional, dan belajar mandiri. Selanjutnya, ia dapat mengembangkan otonomi dengan mempertimbangkan nilai, kemampuan, kebutuhan, dan keadaan nyata sebelum mengambil keputusan. Keluarga, sahabat, rekan kerja, mentor, komunitas, dan organisasi turut memperkuat keterhubungan.
Hubungan sosial juga berkaitan dengan pengalaman kelulusan. Wilt, Bleidorn, dan Revelle (2016) mengumpulkan 538 laporan pengalaman dari 74 mahasiswa selama tiga hari di sekitar waktu kelulusan. Mereka menemukan bahwa pengalaman akan makna hidup pada periode tersebut berkaitan dengan waktu bersama orang lain—terutama keluarga—dan refleksi atas masa kuliah. Temuan ini bukan berarti wisuda atau keluarga otomatis membuat semua orang bahagia. Sebaliknya, hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial dan pemaknaan terhadap perjalanan hidup dapat menyertai pengalaman kelulusan.
ISARAH menguatkan persaudaraan sarjana
Hubungan dengan almamater dan sesama lulusan tidak harus berhenti setelah wisuda. Ikatan Sarjana Al Washliyah merupakan organisasi bagian Al Washliyah bagi kalangan sarjana. Bagi calon lulusan, mengenal ISARAH membuka kesempatan untuk membangun kebersamaan yang menghubungkan latar pendidikan, profesi, pengalaman, dan kepedulian sosial. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al Washliyah menjadi salah satu rujukan kelembagaan organisasi ini (Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, 2021).
Ja’far (2019) membahas peran Al Jam’iyatul Washliyah dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Kajian tersebut memberi konteks tentang kiprah organisasi dalam kehidupan umat. Sementara itu, bagi para sarjana, ilmu dapat menjadi bekal untuk memahami persoalan, menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, dan turut mencari solusi.
ISARAH dapat terus mengembangkan silaturahmi keilmuan, diskusi profesi, pendampingan karier, kolaborasi lintas bidang, dan kegiatan pengabdian. Agar kegiatan tersebut bermanfaat, pengurus dan anggota dapat menyusunnya berdasarkan kebutuhan nyata, aturan organisasi, serta kemampuan yang tersedia.
Sarjana pendidikan, ekonomi, hukum, kesehatan, sosial, teknologi, dan bidang lainnya membawa pengetahuan serta pengalaman yang berbeda. Karena itu, kolaborasi memungkinkan para sarjana saling melengkapi. Pengalaman satu anggota dapat menjadi pembelajaran bagi anggota lain, sementara kompetensi profesional dapat diarahkan untuk membantu masyarakat.
Pemberitaan Delidaily pada 2026 menyebut peluang kolaborasi ISARAH Kota Medan dengan perguruan tinggi dalam diskusi ilmiah, penelitian, dan pengembangan jurnal. Laporan itu membahas rencana serta peluang kerja sama; karena itu, informasi tersebut tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa jurnal ISARAH telah terbit (Redaksi Delidaily, 2026).
Menyiapkan diri menghadapi masa transisi
Kebahagiaan lulusan tidak baru dimulai ketika seseorang memperoleh pekerjaan tetap. Lulusan dapat mulai mempersiapkan diri sejak kuliah dengan mengenali kekuatan, memperoleh pengalaman praktik, membangun kebiasaan belajar, memperluas jejaring, dan memahami pilihan karier.
Setelah lulus, mereka perlu menyesuaikan diri dengan pekerjaan, tanggung jawab baru, kondisi ekonomi, dan harapan keluarga. Kajian lingkup Edmonds, Zayts-Spence, Fortune, Chan, dan Chou (2024) memetakan 12 penelitian tentang kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir dan lulusan selama transisi ke dunia kerja. Kajian tersebut mengidentifikasi keterbatasan dukungan sosial dan ketidakpastian ekonomi sebagai faktor risiko. Sebaliknya, kesiapan karier dan kondisi pekerjaan yang baik dapat berperan sebagai faktor pelindung.
Meski demikian, pengalaman transisi tidak selalu berdampak negatif. Edmonds dan rekan-rekan (2024) juga mencatat bahwa penelitian yang tersedia masih terbatas, khususnya dalam menggambarkan konteks di luar Amerika Serikat dan Eropa. Oleh sebab itu, temuan tersebut membantu kita memahami isu transisi, tetapi tidak mewakili seluruh pengalaman lulusan Indonesia.
Gao, Li, dan Pang (2025) meneliti 905 lulusan perguruan tinggi di China melalui survei pada tiga titik waktu selama tiga bulan. Hasil penelitian mereka menunjukkan hubungan positif antara adaptabilitas karier dan kesehatan mental. Fokus pada peluang karier masa depan berperan sebagai mediator dalam hubungan tersebut, sedangkan persepsi mengenai sisa waktu dan keterbatasan masa depan tidak menunjukkan peran mediasi yang signifikan. Karena studi ini berlangsung di China, kita perlu membaca temuannya dengan hati-hati sebelum menerapkannya pada lulusan Indonesia.
Sementara itu, Magnano, Lodi, Zammitti, dan Patrizi (2021) meneliti 352 mahasiswa tingkat akhir di Italia. Mereka menemukan hubungan antara kesiapan transisi karier, adaptabilitas, keberanian menghadapi perubahan, serta indikator kesejahteraan seperti kepuasan hidup dan flourishing. Temuan ini mendukung pentingnya persiapan karier, tetapi konteks Italia berbeda dari Indonesia. Karena itu, hasilnya lebih tepat menjadi bahan pembanding daripada gambaran langsung bagi seluruh lulusan UNIVA Medan.
Adaptabilitas karier bukan berarti menerima setiap keadaan tanpa pertimbangan. Sebaliknya, kemampuan ini mencakup kesiapan memikirkan masa depan, mengambil keputusan, mencari peluang belajar, dan membangun keyakinan untuk menyelesaikan tugas. Lulusan dapat memulainya dengan mengenali keterampilan, mencari pengalaman, meminta masukan, lalu meninjau pilihan saat keadaan berubah.
Namun, kesempatan kerja dan ketidakpastian ekonomi tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu. Keluarga, kampus, organisasi profesi, pemberi kerja, dan kebijakan publik juga berperan dalam menyediakan dukungan. Dengan demikian, lulusan membutuhkan daya juang pribadi sekaligus lingkungan yang membuka ruang untuk berkembang.
Menghubungkan pekerjaan dengan makna dan manfaat
Pekerjaan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi, membangun identitas profesional, memperluas hubungan sosial, dan menjadi sarana kontribusi. Tomlinson dan Souto-Otero (2025) menjelaskan bahwa lulusan dapat menemukan makna dalam isi pekerjaan, hubungan dan pengalaman di tempat kerja, serta kontribusi pekerjaan bagi masyarakat. Kajian mereka juga menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi dapat membatasi pilihan antara pekerjaan yang diharapkan dan pekerjaan yang tersedia.
Oleh karena itu, pekerjaan bermakna tidak hanya bergantung pada sikap individu. Kesempatan, kondisi kerja, hubungan profesional, dan ruang untuk memberi kontribusi juga ikut menentukan. Selain itu, pekerjaan tidak harus selalu sesuai sepenuhnya dengan bidang studi. Lulusan dapat menerapkan ilmunya dalam berbagai konteks sambil menjaga etika dan terus meningkatkan kompetensi.
Pekerjaan pertama mungkin belum menjadi tujuan akhir. Namun, pengalaman tersebut dapat membantu lulusan mengembangkan keterampilan, memahami tanggung jawab profesional, dan menentukan langkah berikutnya. Pada saat yang sama, ISARAH dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan menghubungkan lulusan dengan rekan sejawat maupun peluang kolaborasi.
Langkah membangun kehidupan sarjana yang bahagia
Pertama, rumuskan tujuan hidup yang realistis dan bermakna. Tujuan tersebut tidak harus berupa jabatan tinggi atau penghasilan tertentu. Lulusan dapat menetapkan sasaran untuk memperdalam keahlian, mendapatkan pengalaman, merintis usaha, membantu keluarga, melanjutkan studi, atau mengabdikan ilmu.
Kedua, pelihara kebiasaan belajar. Dunia kerja dan kehidupan sosial terus berubah. Karena itu, lulusan dapat memperbarui ilmu melalui bacaan, pelatihan, pengalaman, penelitian, dan diskusi. Pembelajaran sepanjang hayat membantu kemampuan tetap relevan dan bermanfaat.
Ketiga, rawat hubungan sosial dan carilah dukungan ketika diperlukan. Berbagi cerita dengan keluarga, teman, mentor, dosen, atau tenaga profesional dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang lain. Meminta bantuan merupakan salah satu cara bertanggung jawab untuk mengelola keadaan.
Terakhir, hubungkan keberhasilan pribadi dengan manfaat sosial. Pengabdian dapat dimulai dengan bekerja secara jujur, berbagi pengetahuan, membimbing generasi muda, membantu menyelesaikan persoalan di lingkungan, atau berkolaborasi melalui organisasi. Bagi calon anggota ISARAH, pertanyaan praktisnya ialah: keahlian apa yang dapat dibagikan, persoalan apa yang ingin dibantu, dan siapa yang dapat diajak bekerja sama?
Penutup
Menjadi sarjana yang bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah atau selalu mencapai semua rencana. Kebahagiaan tumbuh melalui penerimaan diri, tujuan yang bermakna, kemampuan yang terus berkembang, hubungan sehat, dan kesiapan menghadapi perubahan. Gelar sarjana membuka kesempatan; cara lulusan menggunakan ilmunya dalam pekerjaan, keluarga, organisasi, dan masyarakat akan memberi makna pada gelar tersebut.
Bagi calon wisudawan dan wisudawati UNIVA Medan, wisuda menjadi awal untuk meneruskan cita-cita keunggulan (mumtaz) melalui ilmu, karakter Kealwashliyahan, penelitian, kerja sama, dan pengabdian. ISARAH dapat menjadi ruang untuk menjaga persaudaraan, meningkatkan kapasitas, membangun kolaborasi, dan mengarahkan keahlian kepada kemaslahatan.
Selamat menuntaskan pendidikan. Rayakan pencapaian ini, lalu teruslah bertumbuh setelah wisuda. Rawat hubungan dengan almamater dan sesama sarjana, jalani profesi dengan amanah, serta berikan manfaat sesuai kemampuan. Sarjana yang bahagia tidak hanya menemukan jalan hidupnya, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai jalan kebaikan bagi umat dan masyarakat.
Daftar Pustaka
Akhir, M., Mesiono, & Ritonga, A. A. (2023). Management of higher educational institutions based on Alwashliyahan at UNIVA Medan. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12(Special Issue 2023). https://doi.org/10.30868/ei.v12i001.6997
Edmonds, D. M., Zayts-Spence, O., Fortune, Z., Chan, A., & Chou, J. S. G. (2024). A scoping review to map the research on the mental health of students and graduates during their university-to-work transitions. BMJ Open, 14(3), e076729. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2023-076729
Gao, L., Li, Y., & Pang, W. (2025). Career adaptability and graduates’ mental health: The mediating role of occupational future time perspective in higher education in China. BMC Psychology, 13, Article 158. https://doi.org/10.1186/s40359-025-02433-5
Ja’far. (2019). Al Jam’iyatul Washliyah dan pelestarian akidah Ahl Sunnah wa al-Jamā‘ah di Indonesia. ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman, 14(1), 54–81. https://doi.org/10.15642/islamica.2019.14.1.54-81
Magnano, P., Lodi, E., Zammitti, A., & Patrizi, P. (2021). Courage, career adaptability, and readiness as resources to improve well-being during the university-to-work transition in Italy. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(6), 2919. https://doi.org/10.3390/ijerph18062919
Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah. (2021). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al Jam’iyatul Washliyah.
Redaksi Delidaily. (2026, 1 Juli). Silaturahmi ke UMN Al Washliyah, pengurus ISARAH Kota Medan matangkan kolaborasi akademik. Delidaily. https://delidaily.net/silaturahmi-ke-umn-al-washliyah-pengurus-isarah-kota-medan-matangkan-kolaborasi-akademik/
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1069
Tomlinson, M., & Souto-Otero, M. (2025). Graduates’ conceptions of meaningful work. British Educational Research Journal, 51, 2700–2718. https://doi.org/10.1002/berj.4195
Universitas Al Washliyah Medan. (n.d.). Visi, misi, tujuan, dan sasaran Universitas Al Washliyah Medan. https://univamedan.ac.id/visi-misi-tujuan-dan-sasaran-universitas-al-washliyah-medan/
Wilt, J., Bleidorn, W., & Revelle, W. (2016). Finding a life worth living: Meaning in life and graduation from college. European Journal of Personality, 30(2), 158–167. https://doi.org/10.1002/per.2046