Penulis: Muhammad Rahmat, S.Pd.I., M.Si.
Dosen Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah
Ilmu pengetahuan tidak hanya menambah pemahaman teoretis, tetapi juga membantu manusia membaca keadaan, menimbang pilihan, dan menentukan tindakan. Pengetahuan menjadi bermakna ketika konsep dan bukti digunakan untuk menjawab persoalan nyata. Hubungan antara ilmu dan kehidupan tumbuh melalui proses belajar, pengalaman, penerapan, serta evaluasi atas hasil tindakan.
Apa yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat? Ilmu yang bermanfaat membantu seseorang memahami masalah, menyusun alasan berdasarkan bukti, dan memilih tindakan yang sesuai dengan tujuan serta keadaan. Manfaatnya tidak hanya dinilai dari banyaknya informasi yang dikuasai, tetapi juga dari kemampuan menggunakan pengetahuan secara tepat dan bertanggung jawab.
Siapa yang berperan menerapkan ilmu? Peserta didik, pendidik, keluarga, pekerja, peneliti, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sama-sama berperan. Pengetahuan akademik dapat menyediakan teori dan bukti, sedangkan pengalaman masyarakat membantu menjelaskan kebutuhan, kebiasaan, sumber daya, dan dampak persoalan di lingkungan setempat. Pertemuan keduanya dapat memperkaya pemahaman dan membuat solusi lebih sesuai dengan konteks.
Mengapa penerapan ilmu penting? Kehidupan sehari-hari menghadirkan berbagai keputusan, mulai dari mengelola keuangan dan menjaga kesehatan hingga menilai informasi dan merespons perubahan lingkungan. Keputusan tersebut sering dibuat dalam keadaan yang berubah, ketika informasi tidak lengkap atau jawaban belum tersedia secara langsung. Karena itu, manusia memerlukan kemampuan untuk memahami masalah, memeriksa bukti, dan menyesuaikan langkah.
OECD (2024) menjelaskan pemecahan masalah adaptif sebagai kemampuan mencapai tujuan dalam situasi dinamis ketika metode penyelesaian belum tersedia dengan jelas. Dalam Survey of Adult Skills 2023, literasi, numerasi, dan pemecahan masalah adaptif dibahas sebagai keterampilan dasar yang membantu orang menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari maupun pekerjaan.
Keterkaitan ilmu dengan keputusan nyata juga tampak dalam penelitian Pickering, Attridge, Inglis, dan Morsanyi (2025). Pada sampel 1.001 orang dewasa, kemampuan numerasi dan penalaran logis berhubungan dengan hasil pengambilan keputusan dalam sejumlah situasi sehari-hari. Penulis menegaskan bahwa hubungan yang ditemukan bersifat korelasional dan pengaruhnya kecil; karena itu, hasilnya mendukung relevansi keterampilan tersebut tanpa membuktikan bahwa kemampuan itu sendiri menyebabkan keputusan yang lebih baik.
Kapan ilmu dapat diterapkan? Ilmu dapat digunakan kapan pun seseorang perlu memahami keadaan, memilih tindakan, atau menilai konsekuensi keputusan. Penerapannya tidak terbatas pada penelitian dan pembelajaran formal. Memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, membandingkan pilihan sebelum membeli, dan menyusun anggaran keluarga merupakan contoh penggunaan pengetahuan dalam keputusan sehari-hari.
Di mana pengetahuan dapat memberi manfaat? Penerapannya berlangsung di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, organisasi, dan lingkungan masyarakat. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan mendorong pengembangan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, dan perilaku agar seseorang mampu membuat keputusan berdasarkan informasi serta bertindak secara bertanggung jawab bagi lingkungan, ekonomi, dan masyarakat (UNESCO, n.d.-a).
Perguruan tinggi memiliki peluang untuk menghubungkan pembelajaran dan penelitian dengan kebutuhan publik melalui pembelajaran berbasis pengalaman, pengabdian, dan kemitraan. Tinjauan sistematis Rodríguez-Zurita, Jaya-Montalvo, Moreira-Arboleda, Raya-Diez, dan Carrión-Mero (2025) atas kajian tentang service learning dan keterlibatan masyarakat di pendidikan tinggi menunjukkan bahwa pendekatan pengalaman dan riset partisipatif dapat membantu mengembangkan kompetensi untuk pembangunan berkelanjutan. Tinjauan itu juga mengingatkan bahwa pelaksanaannya memerlukan metode yang sesuai dan keterlibatan pemangku kepentingan.
Salah satu cara mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat ialah belajar bersama dalam kegiatan yang berangkat dari persoalan lokal. Habiyaremye (2023), melalui studi kemitraan universitas dengan petani kecil di Soweto, Afrika Selatan, membahas proses perancangan dan pengujian solusi bagi sistem pangan lokal. Kajian tersebut menunjukkan pentingnya mempertemukan pengetahuan khusus dari universitas dengan pengalaman praktis masyarakat.
Bagaimana penerapan ilmu dapat dilakukan secara sistematis? Langkah awalnya ialah mengenali dan merumuskan masalah secara jelas: siapa yang terdampak, apa yang terjadi, di mana dan kapan masalah muncul, serta faktor apa yang mungkin menyebabkannya. Rumusan masalah yang tepat membantu membatasi pencarian informasi dan mencegah solusi diarahkan pada gejala saja.
Setelah masalah dirumuskan, informasi perlu dikumpulkan dan diperiksa kualitasnya. Sumber, metode pengumpulan, konteks, serta keterbatasan data perlu diperhatikan sebelum bukti digunakan untuk mendukung keputusan. Bukti kemudian dihubungkan dengan konsep yang relevan agar penjelasan tidak hanya bertumpu pada dugaan atau pengalaman yang belum diperiksa.
Tahap berikutnya adalah membandingkan beberapa alternatif tindakan. Setiap pilihan perlu dinilai berdasarkan tujuan, sumber daya yang tersedia, risiko, dampak terhadap kelompok yang berbeda, dan kemungkinan pelaksanaannya. Tindakan yang dipilih sebaiknya dicoba secara terencana, kemudian hasilnya diamati agar keputusan berikutnya dapat disesuaikan dengan bukti yang diperoleh.
Pihak yang memahami persoalan dan kelompok yang terdampak perlu dilibatkan sejak proses perumusan masalah. Singh, Bhagwan, dan Singh (2026), dalam tinjauan mengenai pembelajaran dan pengajaran yang melibatkan komunitas di perguruan tinggi, membahas strategi pembelajaran, kompetensi yang berkembang, serta tantangan kemitraan kampus dengan masyarakat. Temuan kajian tersebut mendukung pentingnya membangun keterlibatan yang terarah agar pembelajaran dan pengetahuan kampus berkaitan dengan kebutuhan komunitas.
Penerapan ilmu perlu disertai evaluasi dan tanggung jawab etis. Hasil tindakan dapat ditinjau melalui perubahan yang terjadi, pihak yang memperoleh manfaat, sumber daya yang digunakan, dan dampak yang mungkin muncul. Keamanan, keadilan, akses, privasi, dampak lingkungan, dan keberlanjutan hasil perlu dipertimbangkan. UNESCO (n.d.-b) menjelaskan riset tindakan sebagai pendekatan yang membantu pendidik dan institusi menguji serta memperbaiki praktik pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan melalui proses belajar yang berulang.
Dengan demikian, ungkapan “Ilmu bukan hanya untuk ruang kelas. Saat dipakai memecahkan masalah sehari-hari, pengetahuan ikut menguatkan kehidupan” menegaskan peran praktis dan sosial ilmu. Siapa pun dapat menerapkannya, kapan pun persoalan perlu dipahami, dan di mana pun keputusan harus diambil. Ketika penerapan ilmu berlandaskan bukti, melibatkan pihak terkait, serta dievaluasi secara etis, pengetahuan dapat memperkuat kemampuan individu dan masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Daftar Pustaka
Habiyaremye, A. (2023). Co-learning in university-community engagement for sustainable local food systems in South Africa. Humanities and Social Sciences Communications, 10, Article 820. https://doi.org/10.1057/s41599-023-02350-1
OECD. (2024). Do adults have the skills they need to thrive in a changing world? Survey of Adult Skills 2023. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/b263dc5d-en
Pickering, J., Attridge, N., Inglis, M., & Morsanyi, K. (2025). Numeracy, logical reasoning and real-world decision making. Research in Mathematics Education. https://doi.org/10.1080/14794802.2025.2472675
Rodríguez-Zurita, D., Jaya-Montalvo, M., Moreira-Arboleda, J., Raya-Diez, E., & Carrión-Mero, P. (2025). Sustainable development through service learning and community engagement in higher education: A systematic literature review. International Journal of Sustainability in Higher Education, 26(1), 158–201. https://doi.org/10.1108/IJSHE-10-2023-0461
Singh, W., Bhagwan, R., & Singh, M. (2026). Leveraging community-engaged teaching and learning in higher education institutions for advancing sustainable development: A literature review. International Journal of Sustainability in Higher Education, 27(1), 114–131. https://doi.org/10.1108/IJSHE-01-2024-0066
UNESCO. (n.d.-a). Education for sustainable development. https://www.unesco.org/en/sustainable-development/education
UNESCO. (n.d.-b). Transforming futures: Enhancing practice for ESD for 2030 through action research. https://www.unesco.org/en/sustainable-development/education/transforming-futures