Momentum Sumpah Pemuda 2026, Muhammad Rahmat Ajak Pemuda Wujudkan Gagasan Berkelanjutan

Keberlanjutan

Berbagi gagasan, berkolaborasi, dan berkarya untuk menyambungkan Asta Cita dengan SDGs

 

Muhammad Rahmat, S.Pd.I., M.Si.

Wakil Bendahara PW Ikatan Sarjana Al Washliyah Provinsi Sumatera Utara

MEDAN, 28 Oktober 2026 — Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Muhammad Rahmat, S.Pd.I., M.Si., Wakil Bendahara PW Ikatan Sarjana Al Washliyah Provinsi Sumatera Utara, membawa generasi muda mengubah gagasan menjadi aksi yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Melalui tema “Pemuda Berbagi Gagasan, Berkolaborasi, dan Berkarya untuk Indonesia Berkelanjutan”, ia mendorong pemuda ikut menentukan permasalahan yang perlu diselesaikan, bekerja bersama lintas kelompok, dan menilai apakah solusi yang dibuat benar-benar memberi perubahan.

Peringatan tahun ini mengangkat tema resmi “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Dalam konteks tersebut, patriotisme dapat hadir melalui kerja yang menjawab kebutuhan warga, kegigihan melalui upaya yang konsisten, dan empati melalui kesediaan mendengar kelompok yang kurang terwakili. Semangat persatuan 28 Oktober 1928 dengan menemukan bentuk masa kini: anak muda dengan latar berbeda ikut merancang masa depan yang adil, tangguh, dan menjaga lingkungan (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026).

Gaung peringatan tidak berhenti pada upacara. Sehari setelah Hari Sumpah Pemuda, 29–30 Oktober, Kementerian Pemuda dan Olahraga menjadwalkan Indonesia Youth Summit 2026 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Forum yang ditargetkan diikuti sekitar 5.000 peserta dari berbagai daerah itu mengangkat topik kepemimpinan dan isu pendidikan, karir, kesetaraan perempuan, literasi keuangan, serta lingkungan. Bagi Rahmat, pertemuan nasional seperti ini akan bermakna apabila jejaring dan gagasan yang terbentuk dibawa pulang, diuji, lalu dilanjutkan menjadi kerja nyata di daerah (Kemenpora, 2026).

Peluang itu selaras dengan arah pembangunan nasional. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 menetapkan RPJMN 2025–2029, termasuk memprioritaskan penyediaan sumber daya manusia, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesetaraan gender, serta peran pemuda. Rahmat membahas partisipasi ruang tersebut dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak, SDG 10 tentang pengurangan, SDG 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan, SDG 13 tentang aksi iklim, dan SDG 17 tentang kemitraan. Asta Cita memberi arahan nasional, sementara SDGs membantu menyusun indikator program (Republik Indonesia, 2025; Majelis Umum PBB, 2015).

Di Sumatera Utara, pekerjaan itu dapat dimulai dari masalah yang dekat dengan kehidupan pemuda dan warga: kesenjangan akses keterampilan, sulitnya menemukan peluang kerja, sampah yang belum tertangani, ruang publik yang kurang ramah, atau layanan sosial yang belum menjangkau semua orang. Pelajar, pelajar, pekerja muda, komunitas, dan wirausaha dapat memulai pembentukan bersama sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, rumah ibadah, pemerintah desa dan kelurahan, dunia usaha, serta media. Pelibatan sejak awal penting agar ikut pemuda menentukan prioritas, bukan sekadar diminta hadir setelah rencana kegiatan selesai.

Riset Ina Nur Ratriyana (2023) mengenai rendahnya partisipasi anak muda Indonesia dalam kegiatan prolingkungan menunjukkan bahwa keterlibatan dipengaruhi oleh pengetahuan, dukungan teman sebaya, dan cara program yang disusun. Jika keputusan sepenuhnya datang dari atas, pemuda berisiko menjadi penerima kegiatan tanpa rasa memiliki. Temuan ini memberi alasan praktis bagi penyelenggara program di daerah untuk membuka ruang bagi anak muda memilih isu, menguji gagasan, dan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi setempat (Ratriyana, 2023).

Tinjauan Mohd Idham Mohd Yusof, Dwi Harsono, Tuan Nooriani Tuan Ismail, dan Farah Adilla Abd Rahman (2022) atas 33 artikel ilmiah tentang Indonesia dan Malaysia menemukan bahwa keterlibatan pemuda dalam program terkait SDGs banyak terjadi melalui sekolah dan perguruan tinggi. Mereka menekankan pentingnya pendidikan formal yang dilengkapi pengalaman praktis, inisiatif kampus, serta dukungan kebijakan dan kelembagaan. Bagi sekolah dan kampus di Sumatera Utara, artinya pembelajaran dapat dihubungkan dengan proyek komunitas yang memiliki tujuan jelas, mitra, penanggung jawab, dan hasil yang dipantau (Yusof et al., 2022).

Pengalaman kepemimpinan mahasiswa juga memberi petunjuk tentang cara membangun rasa yang dimiliki. Dalam studi kualitatif terhadap 12 pemimpin mahasiswa di University of Calgary, Bernice Lee, Katherine Liu, Tyler Samuel Warnock, Minji Olivia Kim, dan Sarah Skett (2023) menemukan bahwa kepemilikan atas program, tertanam, dan tumbuhnya komunitas membantu mahasiswa memperdalam keterlibatan mereka dengan SDGs. Dukungan semacam itu dapat mengurangi perasaan tidak cukup tahu atau tidak berdaya. Oleh karena itu, organisasi pemuda perlu memberi tanggung jawab dan pendampingan yang nyata ruang sekaligus untuk memilih cara kerja yang sesuai (Lee et al., 2023).

Kolaborasi juga membutuhkan dukungan lembaga dan akses pada keputusan. Dalam eksperimen delapan bulan di Austria, Cornelia Fischer dan Verena Radinger-Peer (2024) mengidentifikasi pentingnya isu yang relevan, pendamping tepercaya, dukungan pengambil keputusan, sumber daya, komunikasi langsung, dan keputusan bersama. Sementara itu, Tatjana Borojević, Nataša Petrović, Jelena Andreja Radaković, Hajdana Glomazić, Milan Radojičić, Nemanja Milenković, Damjan Maletič, dan Matjaž Maletič (2023) membahas peran pemuda dalam nilai penciptaan berkelanjutan serta pemahaman terhadap prioritas SDGs. Meskipun konteks penelitiannya berbeda, kedua kajian ini menegaskan bahwa suara pemuda perlu dihubungkan dengan dukungan dan hasil yang dapat diperiksa.

Untuk menjaga agar ajakan itu berlanjut setelah peringatan, Rahmat mendorong kelompok pemuda dari sekolah, kampus, organisasi, dan desa atau kelurahan membentuk tim bersama warga serta mitra terkait. Mereka dapat memilih satu persoalan nyata, merancang uji coba sesuai kebutuhan setempat, lalu menjalankannya sepanjang tahun dengan evaluasi berkala. Dampaknya bisa dilihat dari jumlah warga yang terjangkau, keterampilan yang bertambah, sampah yang berkurang, atau layanan yang tetap berjalan setelah dukungan awal berakhir. Dengan cara kerja terbuka, alasan perubahan, lokasi dan waktu pelaksanaan, pihak yang terlibat, serta bukti hasil menyatu dalam satu proses. Momentum 28 Oktober pun berlanjut menjadi kerja bersama yang dirasakan masyarakat.

Rujukan

Borojević, T., Petrović, N., Radaković, JA, Glomazić, H., Radojičić, M., Milenković, N., Maletič, D., & Maletič, M. (2023). Partisipasi pemuda untuk penciptaan nilai berkelanjutan: Peran dan prioritas SDGs. Keberlanjutan, 15(23), 16456. https://doi.org/10.3390/su152316456

Fischer, C., & Radinger-Peer, V. (2024). Bagaimana mengintegrasikan pemuda dalam proses transformasi keberlanjutan regional: Alat, struktur, dan efek. Ambio, 53(11), 1574–1586. https://doi.org/10.1007/s13280-024-02048-x

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). Tema dan penyelenggaraan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026. https://setjen.kemendikdasmen.go.id/kemendikdasmen-teguhkan-nilai-patriotisme-dan-persatuan-dalam-peringatan-sumpah-pemuda-ke98

Kementerian Pemuda dan Olahraga. (2026). Kemenpora RI menyiapkan IYS 2026 sebagai wadah penguatan kepemimpinan pemuda. https://www.kemenpora.go.id/detail/6913/kemenpora-ri-siapkan-iys-2026-sebagai-wadah-penguatan-kepemimpina

Lee, B., Liu, K., Warnock, TS, Kim, MO, & Skett, S. (2023). Mahasiswa memimpin mahasiswa: Sebuah studi kualitatif yang mengeksplorasi model kepemimpinan mahasiswa untuk keterlibatan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Jurnal Internasional Keberlanjutan dalam Pendidikan Tinggi, 24(3), 535–552. https://doi.org/10.1108/IJSHE-02-2022-0037

Ratriyana, IN (2023). Mengapa mereka tidak peduli? Menjelajahi rendahnya partisipasi kaum muda Indonesia dalam kegiatan pro-lingkungan. Studi Pendidikan dan Pembangunan Asia, 12(4–5), 310–323. https://doi.org/10.1108/AEDS-03-2023-0029

Republik Indonesia. (2025). Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2025–2029. https://peraturan.bpk.go.id/Details/314638/perpres-no-12-tahun-2025

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. (2015). Mengubah dunia kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (A/RES/70/1). https://sdgs.un.org/2030agenda

Yusof, MIM, Harsono, D., Tuan Ismail, TN, & Abd Rahman, FA (2022). Partisipasi strategis pemuda dalam implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan di Malaysia dan Indonesia. Jurnal Internasional Manajemen Layanan dan Keberlanjutan, 7(2), 119–137. https://doi.org/10.24191/ijsms.v7i2.19948

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *